Kisah Sukses Perjalanan Bisnis Jusuf Kalla

Kisah Sukses Perjalanan Bisnis Jusuf Kalla

Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterShare on LinkedInEmail this to someonePin on Pinterest

Kisah Sukses Perjalanan Bisnis Jusuf Kalla

Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) memberikan resep sukses berbisnis sehingga perusahaannya mampu bertahan hingga sekarang.

Hal itu disampaikannya ketika bertemu dengan Gabungan Pengusaha Konstruksi Seluruh Indonesia. Ia mengungkapkan, pernah merasakan posisi saat menjadi pengusaha konstruksi. Saat menjalankan bisnisnya, JK selalu mengingatkan tiga hal kepada karyawannya.

“Namanya BMW. Yaitu biaya, mutu harus dijaga, dan waktu jangan lambat, harus tepat waktu,” kata Jusuf Kalla.

Suami dari Mufidah Saad ini menerapkan, cara BMW tersebut selama 40 tahun sehingga perusahaannya dapat berjalan hingga sekarang. Selain itu, ia juga mengingatkan kepada semua pihak untuk menjaga profesionalitas dan kepercayaan.

Ia menambahkan, saat ini seharusnya pembangunan infrastruktur juga bisa lebih efisien. Mengingat harga minyak dunia turun juga berdampak terhadap bahan material. “Contoh aspal, harga minyak dunia turun harga aspal turun. Semen, besi, baja itu itu turun 50 persen dibandingkan dua tahun lalu. Jadi artinya bisa bangun lebih banyak dengan dana yang ada,” kata Jusuf Kalla.

Meski demikian, JK mengingatkan kualitas juga perlu dijaga. “Itu yang bisa dijalankan. Kami tidak ingin kualitas murah harga jelek,” kata JK.

Sebelum terjun ke dunia politik, JK menjalani profesi sebagai pengusaha. Pada 1968, pria yang menjabat sebagai Wakil Presiden pada 20 Oktober 2014 ini menjadi CEO dair NV Hadji Kalla. Di bawah kepemimpinannya, NV Hadji Kalla berkembang dari sekadar bisnis ekspor-impor. Akan tetapi juga meluas ke perhotelan, konstruksi, penjualan kendaraan, perkapalan, real estate, transportasi, peternakan udang, kelapa sawit dan telekomunikasi.

Dengan pertumbuhan ekonomi sekitar 7 persen-8 persen maka mendorong pembangunan infrastruktur Rp 1.000 triliun. JK menuturkan, angka tersebut dinilai bukan dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tetapi angka pembangunannya.

“Semua negara maju mempunyai rKisah Sukses Perjalanan Bisnis Jusuf Kallapumusan yang dapat disebut rencana. Ada hukum berlaku kalau suatu pembangunan bila ingin maju 1 persen dibutuhkan pembangunan lima persen. Kalau sekarang PDB Rp 10 ribu triliun maka bila satu persen Rp 100 triliun maka butuh lima kali. Kalau ingin pertumbuhan ekonomi 7 persen butuh pembangunan Rp 1.000 triliun,” tutur Jusuf Kalla.

Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterShare on LinkedInEmail this to someonePin on Pinterest

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *