Sunny Kamengmau Lulusan SMP yang Sukses dengan Tas Robita

Sunny Kamengmau Lulusan SMP yang Sukses dengan Tas Robita

Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterShare on LinkedInEmail this to someonePin on Pinterest

Pendidikan tidak selalu menjadi tolok ukur kesuksesan seseorang. Begitu pula yang dialami oleh Sunny Kamengmau (41).

Sunny seorang pebisnis tas asal Alor, Nusa Tenggara Timur (NTT). Merek tas yang diproduksinya cukup dikenal yaitu Tas Robita. Namun, dibalik kesuksesannya Sunny ternyata hanya memiliki latar belakang pendidikan lulusan Sekolah Menengah Pertama (SMP).

Sunny Kamengmau Lulusan SMP yang Sukses dengan Tas Robita

“Latar belakang saya datang dari Alor, NTT. Saat itu usia 18 tahun saya datang ke Bali berbekal tamatan SMP karena saya merasa tidak betah sekolah dan memutuskan untuk pergi merantau dan akhirnya saya sampai ke Bali,” ungkap Sunny.

Datang ke Bali berbekal ijazah tamatan SMP, Sunny akhirnya bekerja secara serabutan. Di usia yang masih muda itu, Sunny pernah bekerja sebagai operator cuci mobil dan buruh renovasi hotel. Hingga akhirnya ia menetap bekerja di Un’s Hotel yang terletak di Jalan Benesari, Legian, Kuta.

“Akhir tahun 1994 kerja di sana Un’s Hotel sebagai tukang kebun. Setahun kemudian naik pangkat jadi security sampai tahun 2000,” kenang Sunny.

Di sela-sela kesibukannya sebagai security, Sunny menyempatkan diri belajar bahasa asing seperti Bahasa Inggris dan Bahasa Jepang secara otodidak. Cara itu dilakukan untuk mempermudah dirinya melayani para tamu hotel yang mayoritas adalah wisatawan asing.

“Kebanyakan yang datang tamu dari Eropa termasuk orang Jepang tetapi jumlahnya sedikit,” katanya.

Rubah Nasib dari Tas Robita

Tidak disangka, bekerja di Un’s Hotel memberikan keuntungan tersendiri bagi Sunny karena dari sini perjalanan bisnisnya dimulai. Sejak bekerja di Un’s Hotel, Sunny berkenalan dengan seorang warga negara Jepang pemilik usaha Real Point Inc. bernama Nobuyuki Kakizaki. Kemahiran berbahasa Jepang yang dimiliki Sunny membuat pertemanan mereka semakin dekat hingga Nobuyuki mengajak Sunny bekerja sama.

Sunny Kamengmau Lulusan SMP yang Sukses dengan Tas Robita

Nobuyuki sering mengajak Sunny untuk membeli barang-barang kerajinan tangan dan aksesoris di toko untuk dijual kembali ke Jepang. Para pelanggannya di Jepang memang sering tidak kebagian barang hingga harus menerapkan sistem Pre Order (PO).

Pria kelahiran Maxzmur, Alor (NTT) 12 September 1975 ini kemudian diajari bagaimana cara memilih barang berkualitas hingga cara mengirimnya ke Jepang. Itu semua dilakukan Sunny saat pagi atau siang hari karena malamnya ia tetap bekerja sebagai security di hotel. Hingga akhirnya, di awal tahun 2000 mereka berdua mulai memproduksi tas kulit. Namun tas kulit ini belum diberi merek.

“Pada tahun 2000 awal kami ada ide buat tas kulit. Cari ke tempat pengepul di daerah dekat bandara di Kampung Jawa,” ujar Sunny.

Dari kampung Jawa, akhirnya Sunny dan Nobuyuki mendapati satu orang perajin yang mampu membuat tas kulit. Sejak saat itu produksi tas mulai dilakukan meski masih coba-coba.

“Kami coba untuk buat sampel tas kulit. Akhirnya beberapa bulan ada respon yang pesan. Pertama kali yang pesan dari Jepang. Mungkin hanya belasan yang dijual dan sebulan omzetnya masih tidak tentu,” tambahnya.

Dari penjualan tas kulit itu, Sunny mendapatkan upah tambahan dari Nobuyuki. Sampai pada tahun 2003, Sunny dan partnernya membentuk CV Realisu dengan brand Tas Robita. Nama Robita dipilih karena partner bisnisnya yaitu Nobuyuki Kakizaki suka dengan karakter tokoh Nobita di film kartun Doraemon.

Singkat cerita bisnisnya semakin berkembang dan mengalami peningkatan cukup besar. Tercatat di tahun 2007, produksi tas mencapai 5.000 pcs setiap bulannya. Puncaknya terjadi di tahun 2009 dimana Sunny dan Nobuyuki telah memiliki karyawan hingga mencapai 300 orang.

“Akhirnya kami mulai bentuk Tas Robita tahun 2003. Saya bangun tempat produksi. Saat itu karyawan baru 20 orang. CV Realisu dari situ,” ungkap Sunny.

Asli Handmade Bikin Tas Robita Laku di Jepang  

Ketika ditanya soal modal awalnya berbisnis, Sunny Kamengmau mengaku bahwa ia sama sekali tidak mengeluarkan modal.

“Jadi awal modal nggak ada sama sekali. Saya waktu itu motor saja sewa. Kemudian kredit motor setahun kemudian. Bahkan partner saya itu tahun 2004, itu empat kali pengiriman tidak dibayar dan saya memiliki utang numpuk. Dia (Nobuyuki Kakizaki) kemudian mengeluarkan kredit di Jepang untuk menyelesaikan pembayaran itu,” kata Sunny.

Meski sempat mengalami berbagai kendala, produk Tas Robita sangat diminati pasar Jepang. Menurut Sunny salah satu penyebab utama adalah karena orang Jepang sangat suka pada produk-produk asli buatan tangan (handmade).

“Tas ini natural dalam bentuk anyaman. Di samping itu, warnanya juga dibilang antik ya bagi orang Jepang. Prosesnya juga handmade semua. Di Jepang handmade dihargai sangat mahal,” tambahnya.

Berkali-kali Gagal, Akhirnya Sampai Pada Kesuksesan

Membuat sebuah produk yang berkualitas ternyata tidak semudah yang ia bayangkan. Apalagi dengan pengalaman yang sama sekali tidak ia punyai, bahkan saat itu ia membutuhkan waktu enam bulan hanya untuk membuat sebuah sampel tas. Namun demikian juga tidak lantas langsung diterima, bahkan saat itu penjahit Sunny sampai hampir putus asa dan akan keluar.

Meskipun berulangkali gagal, dengan tekad yang bulat membuat Sunny tak mau mundur barang sejengkal. Dengan tekad dan keyakinan yang luar biasa, lambat laun akhirnya tas yang ia buat bisa diterima oleh orang Jepang tersebut. Pesanan pun mulai datang, meski pada awalnya masih sangat minim. Pada tahun 2003 Sunny mampu memproduksi 100-200 tas perbulan yang ia kirim ke Jepang.

Pada tahun 2006 tas Robita yang digawangi Sunny, mampu menyuplai kebutuhan pasar di Jepang sampai 5000 tas perbulannya. Tas merek Robita sendiri bukanlah tas murahan di Jepang, tas ini termasuk yang digemari bagi kalanagan sosialita. Harga yang ditawarkan kisaran Rp 2 juta sampai Rp 4 juta. Jika dihitung secara kasar, dengan harga minimal per biji adalah Rp 2 juta, maka tas Robita mampu meraup Rp 10 miliar tiap bulannya.

Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterShare on LinkedInEmail this to someonePin on Pinterest

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *